Ahad, 8 Ogos 2010
Jika isteri menangis dihadapanmu…..
Jika isteri menangis dihadapanmu….
“hargai lah ia sblm terlewat…”
Jika seorang isteri menangis dihadapanmu,
itu bererti dia tidak dapat menahannya lagi…
Jika kau memegang tangannya saat dia menangis, dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu..
Jika kau membiarkannya pergi, dia tidak akan kembali menjadi dirinya yang dulu, selamanya!
Seorang isteri tidak akan menangis dengan mudah, kacuali didepan orang yang sangat dia sayangi, dia akan menjadi lemah!
Seorang isteri tidak akan menangis dengan mudah, hanya jika dia sangat menyayangimu.
Dia akan menurunkan rasa EGOnya.
Wahai suami2, jika seorang istri pernah menangis karenamu, tolong pegang tangannya dengan penuh pengertian.
Kerana dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu disaat kau terpuruk terlalu dalam …
Wahai suami2, jika seorang isteri menangis keranamu, tolong jangan menyia-nyiakannya. Mungkin, kerana keputusanmu, kau merosakkan kehidupannya.
Saat dia menangis didepanmu, saat dia menangis keranamu. Lihatlah jauh kedalam matanya. Dapatkah kau lihat dan kau rasakan SAKIT yang dirasakannya keranamu ?
Apakah keistimewaan perempuan ini ? ”
Dibalik KELEMBUTANYA dia memiliki kekuatan yang begitu dahsyat..
TUTUR katanya merupakan KEBENARAN..
SENYUMAN’nya adalah SEMANGAT bagi orang yang dicintainya. .
PELUKAN & CIUMAN’nya bisa memberi KEHANGATAN bagi anak2nya..
Dia TERSENYUM bila melihat temannya tertawa..
Dia TERHARU Dia MENANGIS bila melihat KESENGSARAAN pd org2 yg dikasihinya. ..
Dia mampu TERSENYUM dibalik KESEDIHAN’nya. .
Dia sangat GEMBIRA melihat KELAHIRAN..
Dia begitu sedih melihat KEMATIAN..
TITISAN air matanya bisa membawa PERDAMAIAN.
Tapi dia sering dilupakan oleh SUAMI krn 1 hal…
Bahawa “Betapa BERHARGAnya dia”…
Sebarkan ini ke SELURUH ISTERI2 yg soleha dan SUAMI2 yang kamu kenal agar mereka tidak lupa bahwa ISTERI mrk begitu berHARGA… Dan sangat berHARGA.
Khamis, 5 Ogos 2010
PETIKAN UCAPAN IMAN AS-SYAHID HASSAN AL-BANNA SEMPENA KEDATANGAN RAMADHAN AL-MU'AZZHOM
Petikan ucapan Imam As-Syahid Hassan Al-Banna sempena kedatangan Ramadhan Al-Mu'azzhom
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Wahai Ikhwan yang mulia. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkati dan baik:
Assalamua'laikum wa rahmatullah wa barakatuh...
Pada malam ini, yang merupakan akhir bulan Sya’ban, kita menutup serial kajian kita tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kitab Allah swt. Insya Allah, pada sepuluh malam yang pertama bulan Syawal, kita kembali kepada tema tersebut. Setelah itu kita akan membuka serial baru dari ceramah-ceramah Ikhwan, yang temanya insya Allah: Kajian-Kajian tentang Sirah Nabi dan Tarikh Islam.
Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.
Ikhwan sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun.
Nabi saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw. diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-afiq Al-A’la (Allah swt.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.
Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya ;
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi- nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa ‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanyamemberikan syafaat. ”
(HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)
Wahai Ikhwan, dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Kerana kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.
Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini kerana Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini.
Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita biasa berjumpa kembali setelah masa percutian ini, insyaAllah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama minggu-minggu tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah swt., yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.
Kerana itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri.
“Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.”
Ini, wahai Akhi, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya.
Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak rnenangis kerana Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia kerana bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan shalat tarawih.
Ikhwan sekalian, hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelas an mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).”
(Al-Baqarah: 185)
Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(Al-Baqarah: 185)
Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut.
“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.”
(Al-Baqarah: 185)
Kemudian, lihatlah wahai Akhi, kesan dari semua ini.
“Dan apabila hamba-hamba- Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(Al-Baqarah; 186)
Wahai Akhi, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda,
“Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!"
Wahai Akhi, pintu-pintu surga dibuka, kerana manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, kerana manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq swt., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.
Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.
” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.”
(Al-Baqarah: 185)
Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Kerana puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat material dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.
Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt., dalam kalimat-kalimat ringkas. Wahai Ikhwan yang mulia, tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah swt. dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada empat:
1. Perbaikan Aqidah
Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dlkerjakan dan ditinggal kannya. Wahai Akhi, jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an.
Allah swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah;
“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.”
(Al-Baqarah: 21-22)
Wahai Akhi, setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda. Allah swt. juga berfirman dalam surat Al-Mukminun,
“Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”
(Al-Mukminun: 84-90)
Allah swt. juga berfirman di surat yang sama;
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya) , maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.”
(Al-Mukminun: 101-103)
Allah swt. juga berfirman;
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(Az-Zalzalah: 1-8)
Allah swt. berfirman;
“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah: 1-3) Dalam surat lain Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.”
(At-Takatsur: 1-4)
Wahai Akhi, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan pen-jelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras.
2. Pengaturan Ibadah
Anda juga membaca firman Allah swt. mengenai ibadah. “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
(Al-Baqarah: 43)
“…diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”
(Al-Baqarah: 183)
“…mengerjakan haji adalah kewa-jiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali-Imran: 97) Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”
(Nuh: 10)
Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.
3. Pengaturan Akhlak
Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda biasa membaca firman Allah swt.
“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”
(Asy-Syams: 7-8)
“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.”
(Ar-Ra’d:11)
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan) , ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu) ,’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”
(Ar-Ra’d: 19-24)
Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt. dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras.
“Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”
(Ar-Ra’d: 25)
Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, kerana di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas “Seperempat Juz Khamr” dalam Al-Quran yang diawali dengan
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi”
(Al-Baqarah: 219),
lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila’, talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini kerana surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah.
Ikhwan tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda, wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya.
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.
Jumaat, 21 Mei 2010
BASHIRAH
Bashirah ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh para sahabat dari umat-umat lainnya, kemudian dimiliki juga oleh orang-orang yang ikhlas dari kalangan para pengikut nabi SAW.
Allah SWT berfirman, "Katakanlah(Muhammad):'Inilah jalan(agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak(kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik"
Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk memberitahukan kepada umatNya bahawa itu adalah sunnah atau jalannya. Iaitu dakwah untuk mengucapkan persaksian bahawa tidak tuhan selain Allah yang tidak ada yang menyekutuiNya. Mengajak untuk menyembah Allah dengan Bashirah, dengan seyakin-yakinnya, dengan ilmu, pengetahuan, dalil dan bukti.
Bashirah berdakwah di jalan Allah haruslah memenuhi 3 hal iaitu
1. Seorang dai haruslah benar-benar mengetahui ilmu yang didakwahnya.
2. Dai hendaklah mengetahui keadaan atau suasana orang-orang yang didakwahnya. Ia wajib mengetahui keadaan orang yang didakwahnya baik dari segi agama, sosial, keyakinan, saikologi, sosial, ilmu dan ekonomi mereka. Dari situ ia mengetahui apa yang benar-benar paling diperlukan oleh mereka.
3. Daie seharusnya mengetahui metode berdakwah.
RUJUKAN: KITAB - MENJADI DAIE YANG BERJAYA - DR SA'ID AL - QAHTHANI M/S 35
Selasa, 18 Mei 2010
ILMU DAN AMALAN
Abu Darda RA berkata " Seseorang tidak dikatakan bertakwa sehingga ia berilmu, dan tidak dikatakan sebagai orang berilmu sehingga ia mengamalkan ilmunya"
Sufyan berkata"Yang dimaksudkan dengan ilmu adalah menghafal, mengamalkan, mendengar, menyemak serta menyebar luaskannya"
Ada beberapa cara untuk mendapat ilmu antara lain:
1. Memohonkepada Allah dilimpahkan ilmu yang bermanafaat. Allah memerentah Nabi AW untuk selalu memohon kepadaNya agar ilmu di tambah. Allah berfirman " Dan katakanlah(Wahai Muhammad) ' Ya TuhanKu tambahkan ilmu pengetahuan kepadaku' Thaha:114
2. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan rindu akan ilmu serta mencintai dengan tulus terhadap ilmu seraya mencari keridhaan Allah disamping mencurah segala daya upaya untuk menuntut ilmu tentang Al Quran dan hadis.
Seorang lelaki datang kepada Abu Hurairah RA lalu lelaki itu berkata " Aku keinginan untuk belajar tapi aku kuatir akan mensia-siakan" Abu Hurairah berkata"Dengan meninggalkan mencari ilmu itu berarti kamu telah melakukan tindakan mensia-siakan ilmu"
Adakah kita rindu dan bersungguh-sungguh untuk hadir halaqah atau usrah? Atau lebih seronok tak hadir atau tak ada halaqah....Demi masa, sesungguh manusia ini sentiasa dalam kerugian......Al Asr
3. Menjauhkan diri dari seluruh perbuatan maksiat dengan cara bertakwa kepada Allah. Hal ini merupakan cara yang paling tepat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
"Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi furqan(ilmu)" Al Anfal:29
4. Tidak bersikap sombong dan tidak merasa malu dalam mencari ilmu.
Aishah RA berkata " Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Anshar! kerana mereka tidak pernah malu menadalami ilmu Deen"
5. Ikhlas dalam menuntut ilmu dan dalam mengamalkannya.
Rasulullah bersabda "Seseorang yang menuntut ilmu, di mana seharusnya ilmu tersebut di cari kerana Allah semata-mata, tetapi dia mencari ilmu tesebut untuk mendapatkan kesenangan dunia sahaja, maka niscaya ia tidak akan mendapatkan bau harum syurga pada hari kiamat nanti"
Rabu, 12 Mei 2010
KEPRIHATINAN DAN KEGIGIHAN SEORANG BAPA
Cik saya(panggilan saya kepada ayah) alhamdulillah masih sihat lagi dan tinggal di Kg Kubang Getah, Ketereh, Kelantan. Sekarang ni, separuh minggu ditemani oleh cucunya dan separuh lagi tinggal keseorangan. Umurnya lebih kurang 97 tahun. Dia kata umurnya semasa Banjir Besar (Bah Merah) pada tahun 1926, ia sudah bersunat semasa itu. Orang zaman dahulu umur bersunat ada yang sampai umur 15 tahun.
Alhamdulillah ingatan masih tajam dan idea masih bernas, mata masih boleh membaca dan mengajar Al Quran tanpa memakai cermin mata dan pendengarannya masih tajam.
Beliau mempunyai 3 orang anak semuanya lelaki, Abang yang sulong, umurnya 70an sudah lama pencen guru mempunyai 6 orang anak dan sudah ada cicit, abang yang kedua umur 59 tahun mempunyai 11 orang anak dan bekerja sendiri manakala saya yang bongsu umur sudah 51 tahun dan mempunyai 6 orang anak.
Sekarang ni cik saya sepenuh masa mengajar Al Quran, muridnya ada yang tua dan yang ramainya adalah anak-anak sekolah rendah. Beliau dapat bayaran saguhati bulanan dari kerajaan Kelantan. Duitnya dalam akaun tak pernah diambil. Tetapi semasa arwah emak masih ada, masih lagi dia pergi menoreh getah.
Cik saya ni mempunyai kegigihan dan berwawasan walaupun dia orang kampung. Kelebihan cik saya ni dia boleh membaca dan menulis jawi. Sebab tu saya juga boleh membaca dan menulis jawi semenjak sekolah rendah walaupun menteri pelajaran ketika itu (Khir Johari ) membuang pembelajaran tulisan jawi di sekolah menengah. Tapi cik saya sempat mengajar saya semasa di sekolah rendah.
Cik saya menghantar Abang sulong ke sekolah rakyat sehingga dapat menjadi guru sekolah rendah . Abang yang kedua dihantar ke sekolah inggeris di ketereh, dia sanggup menumpangkan abang saya di rumah satu keluarga di Ketereh bagi mencapai hasrat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah inggeris.
Kemudian bayangkan dia sanggup kayuh basikal tua sejauh lebihkurang 7 km untuk menghantar saya ke sekolah Inggeris di Ketereh pula iaitu pada tahun 1966. Itulah kegigihan cik saya. Pada tahun 50an dan 60an kebanyakan jalan masih jalan tanah. Kalau musim hujan kami terpaksa bawa sebatang kayu untuk membuang selut tanah yang melekat di celah "mudguard" dan lidi basikal.
Pada tahun 2004 sekali lagi saya membawa cik, emak dan Usamah pergi mengerjakan umrah. Ketika itu saya tak berpisah lagi dengannya. Saya menggunakan wheelchair untuk membawanya untuk tawaf dan saie. Saya merasakan ketika itu kalau ia minta saya dokongnya, saya sanggup kerana saya fikir apa yang telah mereka lakukan dalam menjaga dan berkorban untuk kami adik beradik tiada bandingan jasanya. Kalau nak di bandingkan saya dengan Uwais AlQarny sahabat Tabie oh cukup jauh sama sekali.
Uwais Al Qarny, hidup di zaman Rasulullah tetapi tak sempat bertemu Rasulullah. Dia seorang anak yatim dan miskin tetapi taat menjaga ibu yang tua, uzur dan lumpuh. Suatu hari ibunya memberitahunya bahawa ia ingin mengerjakan haji. Oleh kerana ia seorang miskin tidak mampu menyediakan perbelanjaan dan kelengkapan unta untuk membawa emaknya mengerjakan Haji. Kemudian Uwais mendapat ilham, dia membeli seekor anak lembu yang baru lahir dan yang dah habis menyusu. Jadi, pada petang hari ia mendukung anak lembu naik ke atas bukit ke tempat pondok kecil yang dibuatnya. Pagi esoknya dia mendukung turun untuk memberi makan. Itulah yang di lakukan setiap hari. Ada seketikanya dia mendukung anak lembu mengelilingi bukit. Perlakuan Uwais ini di katakan orang dianya gila tetapi sebenarnya ia mempunyai niat yang baik iaitu untuk persediaan untuk membawa ibunya mengerjakan haji. Selepas 6 bulan anak lembu tersebut sudah menjadi 100kg. Oleh itu otot-otot tangan dan badan Uwais menjadi kuat hinggakan dengan mudah mendokong lembu seberat 100kg turun dan naik bukit. Selepas 8 bulan setelah tiba musim haji ia memangku dan mendukung ibunya dari Yaman ke Mekah dengan kedua tangannya dan dibelakangnya dia membawa barang kelengkapan. Dia mendukung ibunya mengerjakan tawaf, saie dan di Padang Arafah dengan senang sahaja. Kemudian dia mendukung ibunya pulang semula ke Yaman dari Mekah. Oh tingginya ketaatan Uwais kepada ibunya. Oleh itu jika dia berdoa kepada Allah pasti dikabulkan. Sabda Rasulullah kepada Sayiddina Umar dan Sayiddina Ali " Suatu ketika, apabila kamu bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi"
Oleh kerana itulah jika dibanding saya dengan Uwais Al Qarny cukup jauh ibarat langi dengan bumi. Sehubungan dengan itu sebagai balasan saya terhadap kedua ibubapa, saya meletakkan hati sentiasa bersama dengan cik saya walaupun keadaan sebenar sekarang kami berjauhan dari negeri di Pantai Timur ke hujung selatan Negeri Johor. Begitu juga dengan arwah emak walaupun sudah hampir 4 tahun meninggalkan kami. Saya sentiasa berdoa untuk emak. Manakala dengan cik, saya mewajibkan diri saya sekurang-kurangnya sekali sebulan bertemu mata dengannya. Walaupun ia tidak memerlukan pemberian duit yang banyak dari kami kerana rezekinya disegi wang ringgit sentiasa ada. Yang kurang adalah suasana bersama, jadi saya perlu bersama untuk mendengar rasahatinya. Saya akan meluangkan masa dengannya, makan bersama, tidur bersama dan bangun qiamulail bersama.
Kebiasaannya apabila saya bersama dengannya, dia akan tanya berulangkali perkara-perkara yang dia minat dan seronok. Contoh baru-baru ni anak keempat saya mendapat anugerah duit dari Kerajaan Kelantan diatas kejayaan cemerlang dalam SPM 2009. Dia bertanya berulang kali berapa A yang diperolehi oleh anak saya. Apabila berulangkali pertanyaannya ini , saya teringat kisah burung murai dengan siput babi.
Dimana seorang anak bertanya kepada ayah tentang anak burung ....burung apa itu ayah?..burung murai.....apabila berulang kali anak bertanya...dia masih terus menjawab, burung murai sayang! dan terus meletak anaknya di atas bahu dan terus berjalan. Manakala di satu rumah seorang ayah yang sudah tua bertanya kepada anaknya, pokok bunga ni dimakan apa Man? Dimakan siput babi ayah!....tapi apabila si ayah bertanya berulang kali..akhir-akhirnya si anak menjawab.. DI MAKAN SIPUT LA BABI...! Oh jangan jadi beginilah anak-anak sekalian. Betapa remuknya hati ayah.
Cik saya ni sangat prihatin terhadap anak-anak lebihkurang sama dengan arwah emak. Tahun lepas sebelum saya ke Umrah dan ke Jordan, saya balik bertemu mata dan memohon restu cik sebelum bertolak ke Jordan dan Mekah. Pagi sebelum saya bertolak balik dengan flight ke JB, kami bangun sebelum pukul 4 pagi. Semasa saya solat, saya dapati cik saya tidak ada di atas rumah, biasanya dia akan solat juga. Selepas saya solat sebelum saya bertolak ke Air Port jam 5 pagi, dia menyerahkan satu bungkusan kecil yang mengandungi kulit manggis untuk saya mengubati penyakit buasir, dia tahu saya mengidap penyakit ini. Saya menitis air mata, memandangkan cik saya yang tua, bongkok dan bertongkat sanggup lagi turun dari rumah di waktu malam yang gelap (pukul 4 pagi) mencari kulit manggis untuk mengubati penyakit buasir saya. Begitulah prihatinnya dia terhadap saya. Keadaan begini mengingatkan saya kepada arwah emak saya, semasa saya batuk emak sanggup turun rumah tengah-tengah malam mencari daun ekor kucing untuk mengubati batuk saya yang batuk di tengah malam. Inilah keprihatinan mereka berdua terhadap anak-anak.Keprihatinan dan tidak mahu menyusahkan anak-anak antara cik dan arwah emak lebihkurang sama.
Dalam keadaan dia duduk berseorangan, beberapa sanak saudara dan kawan-kawan saya suruh saya tanya cik saya samada dia mahu cari pasangan hidup yang boleh menjaga dan memasak untuknya. Saya pun bertanya kepadanya tetapi dia menggeleng kepala tanda tak mahu. Dia kata " kalau cari yang tua nanti menyusahkan engkau pula, asyik dok sakit nanti, engkau yang susah asyik dok bawa ke hospital. Kalau cari yang muda aku pula tak larat, aku dah tua". Begitulah keadaan orangtua sangat tidak mahu menyusahkan anak-anak.
"YA ALLAH, AMPUNKAN DOSA EMAK DAN CIK AKU, BERILAH KESIHATAN YANG BAIK KEPADA CIK , LANJUTKAN USIANYA , AKU MASIH BELUM PUAS BERSAMANYA DAN MASIH TERLALU BANYAK JASANYA YANG BELUM TERBALAS"
Ahad, 25 April 2010
PENGORBANAN SEORANG IBU
Photo saya semasa mula menjejakkan kaki ke IPTA
Rumah ini di bina sebelum walimah untuk penempatan bonda dan ayahanda, di rumah inilah ibu yang tercinta meninggal dunia
Rumah kecil (pondok -lebihkurang 10x14 kaki per) ini adalah tempat saya tinggal bersama bonda dan ayahanda (bertiga)semasa saya di IPTA, sehingga sekarang belum di roboh sebagai tanda ingatan
Saya masih mengingati bagaimana layanannya semasa saya di sekolah rendah bermula dari penyediaan makan pagi dengan hanya biskut tawar dan air teh tapi hampir pasti setiap pagi mesti makan pagi lebih dulu , dia sendiri akan menyikat rambut saya sejak darjah satu hingga darjah enam untuk memastikan anaknya dalam keadaan kemas dan berketrampilan walaupun anak kampung dari keluarga petani yang susah. Kemudian saya berjalan kaki ke sekolah hampir 3 km. Masa itu pergi sekolah dengan berbekal duit hanya 10 SEN sahaja iaitu 5 sen untuk beli nasi dan 5 sen untuk beli air minum atau kadang-kadang bawa bekal nasi yang disediakan oleh emak. Samalah bekal ini yang mereka bawa untuk ke bendang. Saya masih mengingati bagaimana tiba musim peperiksaan dia akan menyediakan telur ayam kampung dan buah badam untuk di makan.
Bagi membalas pergorbanan ibu dan bapa saya, saya dapatlah membina sebuah rumah kayu yang agak selesa sedikit untuk tempat tinggal kami semasa saya bekerja dan belum walimah. Dan saya juga dapat menghantarkan mereka ke Mekah selepas beberapa hari akad nikah.
Pengalaman dan perbincangan penulis dengan para ibu dan bapa tentang tingkahlaku anak-anak remaja dalam situasi dunia global dan ICT masa kini:
Rabu, 3 Februari 2010
MULIANYA SEORANG PENDAKWAH
Perjalanan di atas dunia ini hanya sementara. Di mana kita habiskan umur kita yang sementara ini. Adakah kita termasuk golongan orang rugi yang seperti yang di sebut oleh Allah SWT dalam surah Al Asr: ayat 2
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian" atau termasuk dalam golongan yang di sebut dalam surah Al-Humazah: ayat 2-3
"yang mengumpul harta dan menghitung-hitungnya, di(manusia) mengira bahawa hartanya itu dapat mengekalnya"
Wahai saudara ku, anak-anak ku campaklah jiwamu di jalan Allah. Tetapkanlah di jalanNya. Janganlah cari alasan yang tidak syarie untuk menjauhi atau untuk tidak hadir(tidak istiqamah) dalam halaqah/usrah. Sekiranya kita longgar dengan halaqah/usrah, maka hati kita longgar dengan jemaah. Bila hati longgar dengan jemaah maka kita akan longgar dengan Islam. Bila kita longgar dengan Islam, maka kemana kita......atau akan hanyut dengan keduniaan?
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui" Surah Al Ankabut:ayat 64.
Di mana kita berada samada di rumah, di kolej, di pejabat, di pasar dan di mana saja di atas bumi Allah ini kita hendaklah meletakkan diri ini atau melebelkan diri kita sebagai pendakwah. Jadilah kerja utama kita dalam kehidupan ini adalah dakwah dan tarbiyah, pekerjaan keduniaan kita adalah sebagai wasilah saja. Barulah kita tidak tergolong orang yang rugi.
Allah memuliakan sesiapa yang berjalan di jalan dakwah kepada Allah, Dia mengurniakan kedudukan dan mengangkat tempat mereka di martabat yang tertinggi iaitu:
1. Pendakwah ialah sebaik-baik manusia.
Berdasarkan firman Allah dalam surah Al Imran: ayat 110
" Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi(faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah(buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah( dengan sebenar-benar iman)"
2. Pendakwah ialah saksi yang memberi keterangan kepada manusia.
Ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah: ayat 143
"Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke jalan yang lurus), Kami jadukan kamu(wahai ummat Muhammad)satu umat yang pilihan lagi adil, supaya kamu layak menjadi orang yang memberi keterangan kepada umat manusia( tentang yang benar dan yang salah) dan Rasulullah pula akan menjadi orang yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu"
Mereka akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti bahwa mereka telah menyampaikan risalah Islam, menegakkan neraca keadilan dan meletakkan perspektif yang sahih bersumberkan risalah Islam yang abadi untuk seluruh bangsa.
3. Pendakwah ialah golongan yang berjaya di dunia dan akhirat.
Berdasarkan kepada firman Allah SWT surah Al Imran:104
" Dan hendaklah ada diantara kamu satu ummat yang menyeru(berdakwah) kepada kebajikan(mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada yang salah(buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya"
Mereka berjaya di dunia kerana mereka melaksanakan manhaj Allah Azza wa Jalla dalam dakwah, jihad dan kerja di jalan Islam. Dengan itu mereka memperolehi setinggi-tinggi tingkatan kemegahan, kegemilangan, kempimpinan dan kemuliaan yang besar.
Mereka yang berjaya di akhirat kerana mereka menyampaikan risalah di dunia, menunaikan amanah, menasihati ummat dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad. Oleh itu mereka berkelayakan memperolehi nikmat yang kekal abadi dalam majlis yang benar(syurga) di sisi Allah yang Maha Agung pemerentahanNya lagi Maha Berkuasa mengurniakan apa sahaja.
4. Pendakwah adalah manusia terbaik percakapannya.
Berdasarkan ayat Allah SWT surah Fushshilat:33
" Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada(mengesakan dan mematuhi perentah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata ' Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam( yang berserah bulat-bulat kepada Allah)
Sedarlah para pendakwah hendaklah memperbanyakkan perbualan tentang Islam, bukan banyak berbual tentang keduniaan atau kebendaan yang boleh melalaikan hati. Bila hati lalai ia banyak terikat dengan dunia dan akan lupa kepada Hari Akhirat.
5. Pendakwah adalah pewaris para Nabi.
Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud, at Tarmizi, an Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad dan dikatakan shohih oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Rasulullah SAW bersabda: Para ulama adalah pewaris para nabi.
6. Penghuni langit dan bumi memohon ampun untuk para pendakwah.
Ini berdasarkan hadis riwayat at-Tarmizi daripada Abu Umamah dalam bentuk marfu':
"Sesunggunnya Allah, malaikatNya dan penghuni langit dan bumi sehinggalah seekor semut dalam lubangnya dan ikan paus dilaut, semuanya berselawat kepada orang yang mengajar manusia kebaikan"
Selawat daripada Allah adalah rahmat, daripada malaikat adalah permohonan ampun dan daripada hamba ALlah adalah doa. Kedudukan ini jarang sekali diperolehi kecuali oleh mereka yang berkecimpung dalam dakwah dan berjalan di jalan petunjuk, pembaikan dan penyampaian.
7. Ganjaran Pendakwah tidak terputus.
Muslim dan para Pengarang Kitab Sunan meriwayatkan daripada Nabi SAW, Baginda besabda "Sesiapa yang mengajak kepada petunjuk, baginya ganjaran seperti ganjaran orang yang mengikutinya. Tanpa mengurangkan ganjaran mereka sedikitpun"
Para pendakwah memperolehi kedudukan begini kerana mereka berjaya merubah akal dan jiwa manusia. Mereka membawa hidayah yang berjaya meperbaiki umat dan bangsa.
Ganjaran yang diperolehi tidak terbatas untuk peribadi mereka sahaja kerana menyampaikan perinsip dakwah, bahkan turut diperolehi oleh sesiapa sahaja yang menyebabkan mereka mendapat petunjuk dan menjadi baik.
8. Usaha para pendakwah memberi petunjuk adalah lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Al Bukhari meriwayatkan daripada Ali k.r.m daripada Nabi SAW. Baginda bersabda " Demi Allah, Allah memberi petunjuk melalui kamu kepada seorang lelaki adalah lebih baik untuk kamu daripada kamu mempunyai humr an-Niam(unta merah - orang arab bermegah dengannya kerana keagungan dan nilainya yang tinggi)"
Dalam riwayat yang lain:
"Lebih baik untuk kamu daripada seluruh kawasan di mana matahari terbit dan terbenam"
Dapatkanlah Bisikan dari Ilahi dari sepertiga malam terakhir.

